JAKARTA - Kota Pariaman kini tengah menapaki babak baru dalam struktur perekonomiannya. Meski sektor pertanian masih memegang peranan sebagai tulang punggung utama, geliat sektor perdagangan dan jasa mulai menunjukkan taji yang signifikan. Transformasi ini terlihat jelas dari catatan investasi yang melonjak tajam, menandakan bahwa kota ini sedang bertransformasi menjadi pusat ekonomi berbasis jasa dan perdagangan di Sumatera Barat.
Berdasarkan data terbaru dari Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman, nilai investasi di sektor perdagangan pada tahun 2025 berhasil menembus angka Rp11,7 miliar. Angka ini merupakan lompatan besar jika dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya yang hanya berada di kisaran Rp5,5 miliar. Dengan kata lain, terjadi kenaikan lebih dari dua kali lipat atau sebesar Rp6,2 miliar dalam kurun waktu satu tahun.
Transformasi Ekonomi Pariaman Menuju Kota Jasa
Perubahan peta kekuatan ekonomi ini bukanlah tanpa alasan. Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kota Pariaman, Gusniyetti Zaunit, memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena ini. Menurutnya, meski pertanian masih dominan, arah pembangunan kota memang didesain untuk memperkuat sektor perdagangan.
"Meskipun di sektor pertanian masih mendominasi (penggerak perekonomian) namun sektor perdagangan dan jasa mulai meningkat," kata Gusniyetti Zaunit di Pariaman, Minggu.
Beliau menekankan bahwa secara filosofis, sebuah wilayah dengan status kota sudah selayaknya mengandalkan perdagangan dan jasa sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat. Pariaman, sebagai kota yang terus bersolek, secara bertahap mulai mengalihkan fokusnya ke arah tersebut. Hal ini dilakukan demi menciptakan kemandirian ekonomi yang tidak hanya bergantung pada hasil bumi, tetapi juga pada nilai tambah dari aktivitas transaksi dan pelayanan.
Sinergi Pariwisata sebagai Pemicu Investasi Perdagangan
Langkah strategis yang diambil Pemkot Pariaman untuk mendukung pertumbuhan perdagangan adalah dengan mengoptimalkan potensi alam melalui sektor pariwisata. Menyadari keterbatasan sumber daya alam dalam bentuk tambang atau perkebunan skala luas, Pariaman memilih jalan kreatif dengan menjual keindahan alamnya sebagai daya tarik investasi.
Gusniyetti menjelaskan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata memiliki efek domino terhadap perdagangan dan jasa. "Pariaman tidak memiliki sumberdaya alam tambang dan perkebunan luas namun memiliki keindahan alam untuk dikembangkan," tuturnya.
Terbukti, investasi di sektor pariwisata juga mengalami tren positif. Pada tahun 2025, nilai investasi di bidang ini mencapai Rp4,4 miliar, naik sekitar Rp825 juta dari posisi tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp3,6 miliar. Kehadiran wisatawan secara langsung meningkatkan perputaran uang di pasar-pasar, toko retail, serta penyedia jasa di Pariaman.
Dampak Positif Sektor Perumahan Terhadap Ekonomi Lokal
Selain pariwisata, sektor perumahan (properti) turut menjadi katalisator bagi kenaikan investasi perdagangan. Pertumbuhan kawasan hunian baru di Pariaman secara otomatis menciptakan kebutuhan akan pusat-pusat perdagangan baru di sekitar pemukiman.
Data menunjukkan konsistensi kenaikan investasi perumahan di Pariaman. Pada tahun 2023, nilainya berada di angka Rp17,6 miliar. Angka ini terus merangkak naik menjadi Rp24,4 miliar pada tahun 2024, hingga akhirnya mencapai Rp26,1 miliar pada tahun 2025. Semakin banyak warga yang bermukim, semakin tinggi pula permintaan akan barang dan jasa, yang kemudian menarik minat investor untuk masuk ke sektor perdagangan.
Capaian Investasi Melampaui Target Tahunan
Keberhasilan di berbagai sektor ini membawa total realisasi investasi Kota Pariaman sepanjang tahun 2025 melampaui target yang ditetapkan. Secara akumulatif, total investasi yang masuk mencapai Rp53,8 miliar. Angka ini melampaui target tahun 2025 yang dipatok sebesar Rp51 miliar, atau terdapat surplus sekitar Rp2,8 miliar. Jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai Rp50,5 miliar, maka terjadi kenaikan total sekitar Rp3,3 miliar.
Gusniyetti Zaunit menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan sinyal positif bagi iklim usaha di Pariaman. Kepercayaan investor, baik dalam skala mikro maupun menengah, menunjukkan bahwa kebijakan kemudahan berusaha yang diterapkan mulai membuahkan hasil.
Dominasi Investasi Mikro dan Penyerapan Tenaga Kerja
Satu hal yang menarik dari karakteristik investasi di Pariaman adalah dominasi sektor mikro. Meskipun nilai investasi per unit usaha tergolong kecil, namun jumlahnya yang masif memberikan dampak nyata bagi masyarakat bawah.
Gusniyetti mengatakan bahwa investasi di Pariaman didominasi oleh investasi yang sifatnya mikro dengan nilai di bawah Rp1 miliar. Walaupun nilainya tidak fantastis secara individual, namun secara kolektif usaha-usaha ini menjadi penyedia lapangan kerja utama bagi warga lokal.
"Realisasi investasi tersebut juga melebihi target sekitar Rp2,8 miliar, target 2025 Rp51 miliar," jelasnya lagi. Dengan semakin banyaknya izin usaha yang diterbitkan di sektor perdagangan mikro, angka pengangguran di daerah tersebut dapat terus ditekan melalui penyerapan tenaga kerja di toko-toko, ruko, hingga usaha jasa mandiri.
Harapan dan Proyeksi Masa Depan Ekonomi Pariaman
Ke depan, Pemerintah Kota Pariaman berkomitmen untuk terus menjaga tren positif ini. Fokus pada pengembangan infrastruktur pendukung pariwisata dan kemudahan layanan perizinan di Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu akan tetap menjadi prioritas.
Dengan kenaikan investasi perdagangan yang mencapai Rp11,7 miliar ini, Pariaman telah membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya alam bukan penghalang untuk maju. Melalui visi yang jelas untuk menjadi kota jasa dan perdagangan yang ditopang oleh keindahan pariwisata, Pariaman siap menyongsong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakatnya.
Langkah ini tidak hanya tentang angka-angka di atas kertas, tetapi tentang bagaimana setiap rupiah investasi yang masuk mampu meningkatkan kesejahteraan pedagang pasar, pemilik toko kecil, hingga pekerja di sektor jasa perhotelan dan kuliner di Kota Pariaman.